Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) kata privilege memiliki arti hak istimewa. Sedangkan menurut wikipedia indonesia makna privilege adalah hak istimewa sosial yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang, namun tidak dimiliki oleh pihak lainnya. Hak ini bisa muncul dari hasil stratifikasi sosial dengan adanya perbedaan akses untuk memperoleh barang dan mendapatkan layanan yang sama. Namun, dalam kehidupan bermasyarakat, persepsi mengenai hak istimewa ini mengacu pada banyak hal.
Beberapa di antara privilege adalah hak istimewa yang didapat oleh seseorang yang lahir dikalangan keluarga elit atau keluarga ras atau golongan mayoritas, serta hak istimewa yang dapat dimiliki oleh orang-orang yang berhasil mencapai jabatan lebih tinggi. Dengan kata lain, terdapat persepsi miring terkait hal ini didalam kehidupan masyarakat yang dapat mengacu sebagai bentuk ketidakadilan. Pasalnya pihak-pihak yang disebutkan mendapatkan privilege memang terlihat seperti memperoleh secara sepihak. Tidak aneh, beberapa golongan masyarakat pun berpendapat bahwa privilege memiliki peranan untuk melancarakan sesuatu, termasuk kesuksesan. Alhasil, seperti ungkapan umum, orang yang kaya atau mendapat privilege akan semakin kaya.
Ketika gue kuliah dulu, gue mahasiswa yang super aktif menjalankan kegiatan atau event kemahasiswaan. Berbagai event gue jalani, event pengabdian masyarakat, event budaya daerah, konser musik bahkan seminar nasional pun gue jalani. Hingga di akhir masa jabatan gue di BEM dan HMJ gue dan salah satu temen gue sempat memikirkan sebuah ide bisnis terkait event organizer. Menurut gue bisnis ini sangat dekat dengan kaum muda kayak gue pada saat itu dan pada saat itu pula seorang Putri Tanjung sudah mewujudkannya. Awalnya gue salut sama dia karena dia mampu menjalankan salah satu ide bisnis gue pada saat itu. Tapi bukan kah gue dan Putri Tanjung sangat berbeda? Dia anak pengusaha terkenal. Sekolah diluar negeri. Apapun bisnis yang akan dia jalankan akan mendapatkan banyak dukungan dari rekan bisnis orang tua dia. Wajar dong setiap event yang dijalankan mampu mendatangkan pembicara terkenal atau istilah kasarnya dia akan mudah menjadikan ayahnya "Chairul Tanjung" untuk menjadi pembicara di setiap event yang akan dia buat. Gue dan temen organisasi gue pada saat itu harus bersusah payah untuk bisa mendatangkan sekelas pejabat daerah atau kepala bidang di sebuah kementrian. Untuk putri tanjung? Hal yang mudah dong. Walaupun dia tidak pernah meminta untuk menjadi spesial di kalangan rekan bisnis orang tua dia. Privilege yang melekat pada diri nya sebagai anak pengusaha akan terus ada hingga dia mati nanti. Gak akan sama dengan gue yang bapaknya aja udah gak ada, alias anak yatim. We are different.
Privilege bagi gue bukan sekedar tentang orang kaya, anak orang kaya, anak artis atau pejabat dan anak pejabat. Tapi makna privilege tentang hak istimewa yang hanya dimiliki oleh sebagian orang. Hak istimewa disini tak terbatas. Bagi gue yang memiliki status anak yatim ketika sekolah, gue memiliki privilege untuk mendapatkan banyak bantuan biaya sekolah/beasiswa. Gue mendapatkan banyak kasih sayang dari lingkungan sekitar gue, guru-guru dan bahkan pemerintah. Tahun 2014 gue dengan mudahnya mendapatkan beasiswa dari Kemenristek dikti dan Kemenag. Gue merasa bukan anak pinter disekolahan gue. Banyak yang lebih baik dari gue. Tapi gue yang mendapatkan dua beasiswa itu. Gue pernah tanya ke salah satu pejabat kampus gue yang bertugas dibagian beasiswa ini. Hal apa yang mendasari gue yang diterima. Dan jawabannya adalah karena gue anak yatim, mereka menilai gak ada yang menjadi pemenuh kebutuhan gue selama gue kuliah. Karena gue gak punya sosok ayah. Seperti kasus Putri Tanjung yang tak pernah meminta menjadi spesial sebagai anak pengusaha terkenal. Gue pun gak pernah meminta kalo papa gue meninggal secepat ini. Dan secara tidak langsung, menurut pandangan gue sendiri, privilege yang melekat pada diri seseorang adalah hasil campur tangan Tuhan. Tergantung seseorang memaknai persepsi tentang privilege tersebut
Komentar
Posting Komentar