Sewindu Bersama Tiya------
Sewindu sudah gue mengenal teman baik gue si Tiya Mahireza. Waktu sewindu ini cukup baik untuk gue mengenal sosok tiya yang sebenernya. Tapi sebenernya gue udah kenal Tiya ketika gue SMP (sekolah menengah pertama). Gue pernah sekelas sama dia di tingkat dua. First impression gue tentang dia hanya sebatas cewek egois, suka marah, lebay dan terlalu maksa buat terus belajar. Gue tau lu anak olimpiade matematika, tapi cobalah untuk bersantai sejenak. Walaupun gue waktu sekolah cupu tapi untuk sekedar menilai seseorang, gue bisalah ya.
Tiya bagi gue saat ini udah kayak saudara sendiri. Dan gue gak bisa hidup tanpa dia, karena dia selalu ada ketika gue butuh dia. Sedih gue, Senang gue, All of them. Tiya juga menjadi sosok panutan bagi gue. Karena gue gak punya kakak perempuan, gue ngerasa sosok Tiya sudah cukup menggambarkan sebagai kakak perempuan untuk gue. Tiya selalu marahin gue kalo gue boros, makan sembarang atau gue salah bersikap. Tiya juga lebih dewasa dari cara dia bersikap dan berfikir kalo perbandingannya gue.. Kadang gue merenung, kenapa bisa udah sewindu aja gue kenal Tiya. Kenapa harus Tiya yang lulus dikampus yang sama dengan gue?. Padahal ada ratusan siswa SMANDA. Tapi tuhan menitipkan sebagian jalan kehidupanku bersama Tiya.
Bukan sekedar temen ketika gue kuliah. Tiya sampai saat ini masih menjadi teman baik gue. Tuhan masih sayang sama gue. Masih menempatkan tiya kerja di Kota yang sama dengan tempat kerja gue. Yaitu Jakarta. Betapa kesalnya gue dengan kota Jakarta. Namun menenangkan ketika gue masih bisa dekat dengan teman gue yang satu ini.
Ini foto gue ambil tepat ditengah malam tahun 2019. Sesibuk dan secapek apapun dia kerja, dia masih mau nemenin gue ke rumah sakit. Gue dapat kabar kalo salah satu senior jurusan gue kecelakaan dan keadaanya cukup parah. Foto ini menggambarkan betapa capeknya dia sampai harus tidur di kursi besi halte busway. Kalo gak salah ini halte busway Ragunan deh. Kita sedang menunggu bus terakhir untuk pulang malam itu. Mau dicari dimana teman kayak gini coba?. Apalagi dengan suasana ibukota yang melelahkan. Gak semua orang akan mau dan gender kita sebagai perempuan yang banyak ribetnya dan gak baik pulang malam. Tapi dia mau.
Dulu, banyak yang bertanya sama gue. Selama tiga tahun sekamar kos sama Tiya pernah berantem gak? Pertanyaan itu bahkan menjadi pertanyaan oleh adik kandung dia sendiri. Hmmm gue sih ngerasa gak pernah ya. Karena menurut gue, Tiya cukup memahami dan menghargai gue sebagai temen sekamar dia dan sebaliknya. Kalo cekcok dikit ya ada tapi gak perlu diperpanjang atau dijadikan drama. Sepertinya pada saat itu kita sudah cukup dewasa untuk saling memahami dan menghargai. Dan atau memang kita itu manusia yang hidupnya gak mau banyak masalah kali ya.
Sebenernya gue dulu sedikit sombong karena punya banyak keluarga besar di Kota Semarang dibandingin si Tiya yang sama sekali gak punya keluarga. Dan gue merasa dia bergantung sama gue diawal masa perkuliahan di Kota Semarang. Tapi ternyata penilaian gue salah. Pada akhirnya gue yang sangat membuntuhkan dia. Di tahun terakhir kuliah, gue mendadak masuk rumah sakit. Padahal selama ini gue bisa dibilang gak pernah sakit. Gue bolos kuliah bukan karena sakit tapi males kuliah aja. Kadang sempat mikir kapan ya gue sakit? lagi males masuk kuliah nih. Yaaah, setiap perkataan adalah do'a. Gue pada akhirnya sakit.
Selama gue sakit, Tiya yang full time ngerawat gue. Dari gue pertama masuk IGD, mencari ruangan kamar untuk gue sampai gue keluar dari rumah sakit dan masa pemulihan gue. Manusia yang bernama lengkap Tiya Mahireza yang mau ngerawat gue dengan tulus tanpa imbalan apapun. Orang tua gue gak bisa datang ke Semarang karena keadaan ekonomi serta besarnya biaya rumah sakit gue pada saat itu. Jarak orang tua gue dan gue pada saat itu jauh. Padang - Semarang ya! Sudah beda pulau. Dan gue harus bersyukur sama Tuhan karena disaat orang tua gue jauh dan keluarga besar gue yang di Semarang gak peduli sama keadaan gue. Tuhan ngasih temen yang super baik buat gue. Merawat orang sakit bukanlah hal yang mudah serta ruwetnya proses administrasi di rumah sakit, gue harus salut banget sama Tiya karena dia bisa melewati semua nya dengan baik tanpa berkeluh kesah dan dalam keadaan pada saat ini dia masih muda. Namanya juga anak masih kuliah. Hal ini menandakan kalo temen gue ini selain baik juga pintar dan cekatan. Sayang aja sampai saat ini belum ada pria yang menyadari hal itu. Untuk siapapun yang bakalan jadi jodoh buat temen gue yang satu ini. Percayalah, Kamu pria yang beruntung. Terlalu panjang kalo gue harus menjelaskan hal itu. Tapi kamu akan merasakannya dan betapa bangganya ketika kamu menjadi pasangan hidup temen gue ini.
Sebenernya cerita gue tentang Tiya masih banyak banget. Tapi otak gue udah mandeeek :)
Jadi cukup untuk hari ini. Terima Kasih
aaaaa terharuuu sumpah baru baco ðŸ˜
BalasHapus