SUKU
Suku
Kata yang mampu mengambarkan perbedaan. Kata yang mampu mengambarkan persamaan. Dari kata ini terlahir sebuah peradaban, kebiasaan, budaya dan adat istiadat. Makna suku bagi gue bukan sekedar indentitas etnik. Gue belajar banyak tentang perbedaan suku bangsa di indonesia yang tak bisa diitung jumlahnya. Gue terlahir dari orang tua yang memiliki perbedaan suku. Mama gue memiliki suku minang, sedangkan papa gue suku jawa. Dan dari gue kecil, gue bangga dengan double suku yang gue dapatkan dari orang tua gue. Karena pada saat itu mayoritas dilingkungan gue masyarakatnya bersuku minang atau melayu.
Selain belajar banyak dengan masyarakat dan lingkungan sekitar tentang budaya suku minang, gue pun belajar secara teori di sekolah. Dari gue SD-SMA gue belajar tentang budaya alam minangkabau. Salah satu mata pelajaran wajib disekolah yang gue senangi, disaat teman-teman gue pada saat itu membenci pelajaran tersebut. Gue senang ketika gue mengerti tentang budaya gue sendiri. Gue seakan bangga dengan hal itu.
Ketika gue masih sekolah dasar, kaum suku gue melaksanakan acara batagak panghulu, sebuah acara pengangkatan dan peresmian penghulu/datuk/kepala suku baru. Itulah acara pertama yang buat gue takjub dengan segala kegiatan budaya. Dari hal ini gue mulai bangga dengan suku gue. Peresmian dan pengangkatan penghulu/datuk harus berpedoman dengan adat istiadat "maangkek rajo, maangkek penghulu sakato kaum". Tata tertib meresmikan penghulu dimulai dengan rapat dan mufakat di kaum tersebut, kemudian dibawa kehalaman yang lebih luas atau masyarakat kemudian ke Kerapatan Adat Nagari (KAN). Dan yang berhak memasangkan deta penghulu (tutup kepala kebesaran penghulu) yang baru diangkat adalah pucuk adat atau pemuka adat. Kriteria menjadi seorang penghulu pun tidak sembarang, ada banyak faktor dan pertimbangan karena seorang penghulu akan menjadi panutan untuk kaum nya dan anak kemanakan (keponakan). Dan seorang penghulu harus mampu menyelesaikan masalah di kaum nya, maka dari itu seorang penghulu/datuk harus pintar dan berilmu.
Keluarga besar gue termasuk keluarga yang paham dan peduli tentang adat dan istiadat, sehingga tanpa gue sadari, gue pun banyak mengerti tentang adat istiadat gue sendiri. Secara luas orang akan menilai masyarakat yang tinggal di Sumatera Barat dengan istilah suku minang atau melayu. Padahal secara spesifik di daerah gue sendiri kita memiliki berbagai suku. Suku gue piliang, teman sekosan gue dulu bersuku chaniago dan tetangga gue suku tanjung. Seperti hal nya marga bagi masyarakat suku batak, di masyarakat minang pun memiliki banyak suku/marga.
Jika ditarik dari sejarah budaya minangkabau pada jaman dahulu hanya ada dua suku yaitu suku piliang dari DT. Katemanggungan yang lebih dikenal dengan sistem kerajaan atau sistem monarki karena DT Katemanggungan berdarah bangsawan (rajo) dan suku chaniago dari DT Parpatiah Nan Sabatang yang lebih dikenal dengan sistem mufakat dan demokrasi.
Karena gue terlahir dari orang tua yang memiliki perbedaan suku bangsa. Dan gue bangga dengan hal itu. Ketika gue lulus SMA, gue sangat menginginkan untuk melanjutkan pendidikan di tanah jawa. Gue ingin lebih kenal dengan budaya, bahasa dan adat istiadat orang jawa disana. Gue pengen belajar dan bisa berbahasa jawa. Pengen menonton pertunjukan wayang kulit? Apa itu musik keroncong? Keraton jawa itu seperti apa? Bagaimana keseharian orang jawa? Gue pengen lebih mengenal hal tersebut. Dan Allah swt maha baik, gue dikasih kesempatan gue melanjutkan pendidikan di tanah jawa. Di kota yang menjadi tempat gue dilahirkan. Kota Semarang, kurang lebih tiga tahun tinggal dan menetap disana. Gue sedikit banyak mengenal adat istiadat, budaya dan kebiasan orang - orang jawa yang sangat berbeda dengan masyarakat minang pada umumnya. Beberapa hal gue kagum dan takjub dengan sikap dan tutur kata orang jawa. Mereka sangat baik dan ramah. Teman - teman kuliah gue banyak mengajarkan etika dan cara bertutur kata selama gue kuliah disana. Bukan berarti gue gk punya etika, tapi memang kenyataannya keramahan orang jawa itu diatas rata-rata. Gue bisa berbahasa jawa karena lingkungan gue pada saat itu mendukung gue untuk bisa berbahasa jawa. Mereka tak pernah bosan mengajari gue bahasa jawa dengan logat gue yang sangat aneh. Tapi gue sedikit kecewa, udah tiga tahun menetap disana. Gue sampai sekarang, gue gak pernah menonton pertunjukan wayang kulit. Padahal gue pengen banget.
Tanpa sadar ketika gue kuliah dulu, gue seperti duta budaya minang di sana. Ketika teman - teman gue, dosen atau masyarakat jawa yang random bertanya tentang budaya minang seperti apa. Gue ceritakan dan jelaskan dengan bangga dan rasa percaya diri tinggi. Gue senang ketika mereka semua kepo dan ingin tau tentang suku minang. Bahkan ada salah satu dosen gue yang suka mengangkat tema pembelajaran tentang budaya minang. Dan gue love dengan dosen itu. Gue menjadi mahasiswa yang selalu menunggu kedatangannya.
Bertahun - tahun gue di titik rasa bangga itu, bangga dengan double suku dan budaya yang gue punya dan rasa bangga gue dijatuhkan oleh sebuah kalimat dari seseorang yang gue sayang pada saat ini. Sebuah kalimat yang menjatuhkan rasa bangga tersebut. Gue menganggap hal itu anugerah buat gue. Tapi ketika kalimat itu datang, Jleeeeeb rasanya itu menjadi bencana buat gue. Sakit, rasanya seperti terjatuh dari gedung tinggi. Hingga saat ini gue masih sedih ketika mengingat kalimat itu. Tapi sebagai manusia, gue gak memiliki kemampuan untuk memfilter setiap kalimat yang datang ke gue.
Komentar
Posting Komentar